Cerita Cinta Fiona
Hai aku Fiona, aku satu-satunya anak perempuan dari Tuan Fahri, dan Nyonya Grace. Aku sekolah di sekolah paling elite di Jakarta sekarang aku sudah kelas tiga, oh ya satu lagi aku pengen banget dapat kasih sayang dari papa sama mama, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing, ya miting lah, plesiran lah, banyak pertemuan ini-itu, tapi aku seneng juga soalnya aku punya temen yang sangat mengerti aku yaitu Tia. Dia orang pertama yang kenal aku di sekolah Tunas Bangsa itu. Ini ceritaku ..
Pagi buta ,aku sarapan sendiri berangkat sekolah pun sendiri. Kenapa sih aku gak seperti anak-anak lain, yang tiap hari kumpul sama orang tua, sedangkan aku, papa dan mama pulang malem yah aku udah tidur lah, trus berangkat pagi banget, aku udah bangun belum sampai sarapan bareng udah mau berangkat aja boring banget kan. Kali ini aku jalan kaki menuju sekolah, jaraknya cukup jauh sih. Tapi yasudah itung-itung olah raga.
(sambil marah-marah)” huffft, napa sih papa mama gak pernah perhatian sedkitpun ama aku.”
(Mobil Nico mendekati Fiona)” Fi, bareng yuk….’’ tawar Nico
“ Gak usah co, makassih
“ Ayo dong, gue lagi baik nih”
“ gak ngrepotin kan?”
“ Ya gak lah, gue malah seneng , udah ayo…”
Sampai di sekolah, anak-anak pada ngeliatin gue, kayak mau nerkam gue hidup-hidup aja. Ya iya dong siapa sih yang gak kenal sama Nico Pranata,cowok paling ganteng dan tajir di sekolah, cewek mana sih yang gak tergila-gila sama dia.
“ Fi, kok kamu bisa berangkat sekolah bareng Nico, kalau Dea tau kamu berangkat sama Nico aku gak tau deh mau diapain kamu.” Tanya Tia
“ udah Tia, kamu gak usah khawatir Nico sendiri kok yang ngajak aku berangkat bareng.” Jelasku
( Tiba-tiba Dea datang bersama genk Angelnya itu, genk Agel terkenal dengan cewek-cewek yang cantik)
“ Bagus ya, loe berduaan sama Nico di dalam mobil.( sambil melotot) jangan pernah sekali lagi loe deketin Nico , kalo sampai gue tau loe dua-duaan sama Nico awas aja loe. Gue bakalan bikin Nico benci sama loe selama-lamanya.”
( Aku hanya menunduk, antara ketakutan dan sedih)
Saat istirahat, aku dan Tia pergi ke kantin yang udah jadi langganan dari dulu.
“ bu baksonya dua ya…”
“ Fi, apa setelah Dea ngelabrak kamu tadi kamu masih akan deketin Niko”?
“ kayaknya gak deh Ya, aku gak mau lagi deket sama Nico.’’
“ aduh Fiona, kamu tuh gimana sih, kayaknya Nico tuh suka sama kamu.”
“ hahaha, gak mungkin lah ya, gak mungkin banget gitu Nico suka sama aku, Nico tuh suka sama cewek yang popular sedangkan aku, aku Cuma cewek biasa.”
“ Siapa bilang kamu cewek biasa, kamu tuh cantik, manis, baik lagi, bisa aja dong Nico suka sama kamu, buktinya tadi kamu berangkat bareng Nico.”
“ ya ampun Tia, kan kita satu kompleks, dan kebtulan juga tadi dia liat aku jalan sendiri di jalan, mungkin Nico kasihan kali sama aku.”( dengan nada sedikit nyolot)
“ Hayoo, kalian berdua ngomongin aku ya.”( mengagetkan)
“ Nico, kok ……”
“ dari tadi aku denger pembicaraan kalian, lain kali kalo mau ngoongin orang jangan keras-keras kedengeran kan jadinya.”
“ Ya, kita ke perpus aja ya, aku udah gak laper.”
“ tapi Fi, Nico..
“ Udah, ayo….”( menyeret Tia)
“ Fiona, …..kenapa sih itu anak.”
“kamu kenapa sih Fi, apa setakut itu kamu sama si Dea?”
“ Ya, aku gak mau Dea semakin marah dan lalu dia buat Nico membenci aku setelah dia tau aku mendekati Nico.”
“Fi, jangan-jangan kamu suka ya sama Nico?”
“ Apa?nggak kok, ngapain juga aku suka sama Nico.”(aku harus membohongi perasaanku sendiri,karna aku gak mau Tia terus mendekatkan aku dengan Nico)
“ bener kamu gak suka sama Nico?aku gak mau kamu jadi sakit Fi, jangan kamu memendam perasaan suka itu.”
“Tia aku benar-benar gak suka sama Nico”
“ Tapi kenapa kamu jadi gugup dan khawatir kayak gini?”
“ Udah deh Ya, aku gak mau debat sama kamu, kita kekelas aja yuk..”
Pelajaran satu demi satu ku lalui, tapi hari ini sangat menyebalkan bagiku, aku masih ingat kata-kata Dea. Ya tuhan…tolong lupakan kata-kata itu.
Sepulang sekolah, aku tak lupa mengambil buku yang tersimpan dalam loket siswa, tapi ketika aku akan membuka pintu loketku, terdapat secarik surat dan bunga mawar merah kesukaanku. Aku ambil surat itu, ternyatasurat itu dari Nico, surat itu berisi :
“ hai, Fi kenapa sih akhir-akhir ini kamu aneh, sepertinya slalu saja menghindar dari aku. Apa salah aku sehingga kamu menghindar ,tadi beragkat sekolah kamu gak seperti ini. Kalo aku ada salah aku minta maaf sama kamu. Dan nanti malam jam 07.00, aku tunggu kamu di taman dekat air mancur.
Nico
Aku bingung kenapa Nico tidak membicarakan langsung denganku tadi, kenapa harus ketemuan. Apa ada sesuatu yang penting?
Tiba di rumah mama dan papa sudah menunggu kepulanganku.
“ Hai sayang….”(ucap mama sambil tersenyum)
“ mama, kok ada di rumah. Apa mama sama papa udah sadar ya kalau Fiona itu kesepian di rumah sendirian?”
“ Fiona, kenapa kamu bilang seperti itu sayang?apa kamu tidak suka mama dan papa pulang cepat?”
“ ma, ditinggal atau tidak rasanya Fiona udah biasa, Fiona gak kaget apalagi seneng. Karna hampir setiap hari mama sama papa gak ada di rumah buat Fiona.”
“ Fiona,(menampar)
“ papa,papa nampar Fiona?apa sih salah Fiona?(menangis gan berlari menuju ke kamar)
“Fiona..Fiona, anak itu sukanya nyolot saja, kan kita kerja juga buat dia.”
“ Papa sabar, mungkin kita terlalu sibuk. Mama rasa Fiona marah sama kita karna kita kurang perhatian pa sama Fiona. Yasudah mama mau nenengin Fiona dulu saja.”
“ ya sudah ma.”
“ Fiona, buka pintunya dong sayang, mama minta maaf kalau selama ini mama kurang perhatian sama kamu.”
“ ma, apa sesibauk itu mama kerja siang malam kerja lembur, sampai gak inget sama anaknya?”
“ Fiona, mama dan papa kerja itu buat kamu juga kan?, mama harus bagaimana lagi. Sebenarnya kita juga pengen sayang dirumah berkumpul sama kamu. Ayo dong buka pintunya.”
(akupun langsung membuka pintu dan memeluk mama dengan erat)
“ Yasudah sayang ayo makan siang dulu.”
“ ya ma, mama dulu aja nanti Fiona susul deh.” ( tersenyum sambil menutup pintu kamar)
Aku masih mimikirkan ajakan Nico nanti malam, aku takut akan Dea yang selalu mengawasiku agar tak mendekati Nico.
“ aduh bagaimana ini, aku kasihan sama Nico jika aku tak menemuinya, dan dia masih menungguku sampai malam bagaimana? Trus belum lagi entar kalau hujan, aku gak mau dia sakit.”(berdiri dan khawatir)
(mama memenggil) “ Fiona, ayo turun papa sama mama sudah menunggu loh sayang, cepat turun.”
“ Iya ma sebentar lagi.”( keluar dari kamar)
“Ma, Fiona boleh nanya gak?
“ mau nanya apa ?”
“ mama pernah gak suka sama orang, tapi mama takut kalau orang itu akan membenci mama.”
“ kamu itu aneh deh, kenapa Tanya seperti itu. Jangan-jangan kamu jatuh cinta ya..?”
“ aahh, mama jawab aja.”
“ mamamu pernah seperti itu, ya sama papa.”
“ ma, bener ma?”
“ ya, seperti itu lah. Mama pernah suka sama papa saat SMA dulu. Tapi ada temen mama yang ngancam mama gitu, saat itulah rasa suka mama teruji. Mama gak berani deketin papa, hingga akhirnya papa nembak mama.”
“trus-trus mama terima?”
“ ya iya, kamu kenapa sih Tanya begitu. Apa kamu suka sama teman kamu ya?”
“ gak kok ma. Gak kenapa-kenapa, yaudah aku ke kamar dulu ya.”
Malam tlah tiba, aku bergegas untuk menuju ke taman dekat air mancur itu. Di sana aku melihat Nico duduk manis dengan membawa setangkai mawar merah. Aku berdiri di belakang pohon dan gak akan menemuinya, karna aku gak mau dia membenciku.
Air mataku tak sengaja menggenang di kelopak mataku ketika aku melihat wajah Nico, sakit rasanya membiarkan dia sendiri disana duduk menantiku.
“ Co, maafkan aku, aku terlalu takut kehilangan kamu. Aku juga harus membohongi perasaanku sendiri bahwa aku mencintai kamu.”(bekata dalam hati dan menangis)
Cuaca yang mendung tak Nampak malam itu, tak terasa gerimis mulai turun. Nico masih duduk di tempat itu.
“ co, pulang co. kamu gak usah menunggu aku, aku gak akan menemuimu.”( melihat Nico)
Tak lama hujan pun makin deras dan membasahi seluruh tubuhku, aku langsung pulang dari tempat itu sebalum Nico mengetahuiku. Namun tiba-tiba Tia menemuiku
“ dari mana kamu Fi, kok hujan-hujanan.”
“ ohh, aku aku dari rumah Sandra ya Sandra ya.., kamu sendiri dari mana?”
“ Aku dari toko,loh bukannya Sandra lagi di luar kota ya?”
“ oh iya, e…e…udah ah pulang aja yuk.”(gugup)
“ Napa sih, aneh banget sih kamu Fi.”
“ Udah ayo, aku kedinginan nih.”(menoleh ke belakang)
“ Fiona..,kemana sih kamu. Aku udah bela-belain ujan-ujanan, sekarang itu aku pengen banget kamu tau perasaan aku sebenarnya ke kamu. Tapi …..(membuang bunga mawar dan pergi)
Di rumah aku tak bisa tidur karna memikirkan Nico, aku takut dia marah, karna saat itu aku tak menemuinya.
“ apa aku jahat ya ,membiarkan Nico sendirian disana dan hujan-hujanan? Ahh, udah pasrah aja deh, kan aku ngelakuin ini demi kebaikan juga.”(bersiap-siap tidur)
keesokan harinya di sekolah ada tugas yang harus aku selesaikan, mangkanya aku berangkat sekolah pagi sekali.
“ Ya, Tia…”(Nico memenggil Tia)
“Ada apa co, tumben banget manggil aku.”
“ aku mau Tanya soal Fiona, kemarin kamu sama Fiona gak?”
“ gak, emang kenapa?”
“ aku kemarin ngajak dia ketemuan, tapi dia gak dateng. Aku fikir dia lupa trus pergi sama kamu.”
“ tunggu tunggu tunggu, kemarin malem aku ketemu sama Fiona, deket taman gitu. Apa jangan-jangan dia datang tapi gak bisa menemui kamu?”
“maksud kamu?”
“Gini loh Nico, kemarin aku abis dari toko, trus waktu aku pulang akau ketemu sama Fiona ujan-ujanan deket taman, ketika aku Tanya “ dari mana?” eh dia bilang dari rumah Sandra. Aneh banget kan Fiona kerumah Sandra, secara kan Sandra ada di luar kota. Dan anehnya lagi kenapa dia ujan-ujanan demi ke rumah Sandra. Jelas gak?”
“ Ya, udah jelas kok. Tapi kenapa ya? Kalo Fiona akhir-akhir ini selalu menghindar dari aku?”
“ oh ya, aku mau kasih tau ini ke kamu, kemarin tuh si Dea ngancem Fiona, kalau dia tetep deketin kamu maka Dea akan bikin kamu benci sama Fiona.”
“ kenapa sih, dia harus menghindar. Apa setakut itu ya dia sama Dea.”
“ mungkin karna dia suka sama kamu kali.”
“ oh ya?”
“ ya apalagi kalau suka, kalau Fiona gak suka sama kamu ngapain juga dia bela-belain jauhin kamu, sampek biarin kamu hujan-hujanan segala.”
“ emm, yaudah makasih ya Tia.oh dan satu lagi aku mau pindah ke Jogja Ya.”
“ Pindah? Kenapa.”(heran)
“Orangtuaku dapet kerja di sana, jadi sekalian aku juga diboyong kesana.”
“ Trus gimana dengan Fiona, kamu kan ada rasa sama dia.”
“ Kata siapa aku ada rasa sama Fiona.”
“ Udah gak usah bohong, udah keliatan tau dari mukanya.”
“ Ya ya ya, aku ngaku deh. Dari pertama aku kenal sama Fiona, jujur aku langsung jatuh cinta pandangan pertama.”
“ ow ow ow, tau ada rasa napa gak nembak aja.”
“Nah, kemarin aku ajak Fiona ke taman, ya aku mau ngungkapin perasaan itu.”
“Eemm, trus gimana nasipnya si Fiona, kalo kalian pacaran otomatis si Dea bakal ngelakuin apa aja buat hancurin hubungan kalian.”
“ Oke aku akan temuin si Dea, dan saat itu pula aku akan nembak Fiona. Udah ya aku masuk dulu da da Tia.”
“ ehh, mau nyelonong aja. Gak pakek trimakasih kek, apa kek. Huuuft.”
Saat aku berjalan menuju ke perpustakaan, tiba-tiba ada yang menarik tanganku dari belakang, aku menoleh dan ternyata Nico.
“ Nico, ngagetin aja.”
“ aku Tanya sama kamu, kemarin kamu kemana, aku udah nunggu kamu Fi.!”
“ Nunggu, kamu nunggu aku? Memang kamu ngajak aku kemana.”(gugup)
“ kamu gak baca surat dari aku kemarin?”
“Surat apa sih aku gak ngerti?”
“ kamu jangan pura-pura Fi, aku udah tau kalau kamu kemarin udah datang ke taman tapi gak mau nemuin aku kan?jawab Fi iya kan?”
“ aku gak ngerti apa yang kamu omongin Nico? Taman apa sih.”
“ Yaudah aku anggap itu bukan masalah penting, sekarang ikut aku.”(menyeret tangan Fiona)
“Co, kamu mau bawa aku ke mana sih, lepasin sakit tau.”(merintih)
( Nico melepaskan tangan Fiona,dan langsung memeluk Fiona di depan Dea. Seketika Dea langsung naik darah. Namun Fiona takut dan berusaha melepaskan dekapan Nico)
“ Co lepasin.”(mencoba melepaskan dekapan Nico)
“ kenapa, kamu takut sama Dea.”
“ Apa maksud kamu, aku gak takut sama Dea. Apa kamu gak malu diliatin sama anak-anak.”
“ Aku gak akan malu Fi, kalau aku harus seperti itu. Aku rela walaupun semua anak-anak menertawakan aku demi kamu. Dan kamu Dea apa maksud kamu ngancem Fiona.”
“ Asal kamu tau Co, aku ngelakuin itu karna aku sayang sama kamu. Tapi kenapa kamu slalu aja Fiona Fiona Fiona dan Fiona, kamu gak pernah perduli sama aku.”
“ Oke aku hargain kamu, karna kamu suka sama aku. Tapi sorry aku sama sekali gak ada rasa suka sama kamu.”
“ Tapi Co, aku bener sayang, malah cinta banget sama kamu. Kita coba aja ya jalanin ini aku yakin lama kelamaan kamu pasti suka sama aku.”
“ Maaf ya Dea, cinta itu gak bisa dipaksakan. Aku gak suka, sayang dan cinta sama kamu. Tapi aku sangat sangat dan sangat mencintai Fiona.”
“ Apa yang kamu bilang Co. gak mungkin kamu suka sama cewek kuper seperti dia.”
( Fiona menatap Dea, dengan rasa ketakutan.)
“ Aku gak perduli kamu ngomong apa, aku cinta sama Fiona apa adanya kok.”
“ Kamu itu bener-bener gila ya.”
“ Ya aku gila karna cinta.”
“ Ohh, trus apa maksud kamu ke sini. Kamu Cuma mau buat aku cemburu aja kan?”
“ Gak, tujuan aku ke sini aku mau semua orang tau dan menjadi saksi cinta aku ke Fiona. Termasuk juga kamu.”
“ Apa kamu bilang Co.”(Fiona menyela)
“Fiona dari awal kita bertemu sampai sekarang perasaan aku masih sama seperti dulu. Aku udah jatuh cinta sama kamu. Sebenarnya aku malu sama kamu tuk menyatakan ini semua kalau aku suka sama kamu. Tapi lama perasaan ini terpendam semakin lama semakin sakit. Jadi kamu mau gak jadi pacar aku?”(memegang tangan Fiona)
( menangis) “ Co nggak co….. aku gak bisa jawab sekarang.”
“ Gak, aku mau kamu jawab sekarang. Kalau seandainya kamu nolak aku oke, aku bisa terima.”
“ Aku gak bisa sekarang Co.”
“ please Fiona kamu tatap mata aku, apa kamu masih ragu tentang cinta aku ke kamu, apa …...,( sela Fiona) “ Nico cukup aku gak tau mau ngomong apa sama kamu. Aku tau kamu sayang sama aku, tapi tapi aku butuh waktu untuk memikirkannya Nico, aku mohon kamu ngerti.”
“ Udah lah aku anggap kamu nolak aku, maaf ya kalau aku terlalu memaksakan kamu.”( pergi meninggalkan Fiona)
Sementara itu Tia mencari Fiona untuk memberitahu kalau Nico akan pindah ke Jogja bersama orangtuanya.”
0 komentar:
Posting Komentar