Mengenai Saya

Saya Ainia Gita Tiara Shanti, sekarang aku sekolah dI sma u bPPT AL-FATTAH. Emmm...., Kalian pasti belum tau banyak tentang aku. aku anak SMA yang berumur 16 tahun. tinggal di Lamongan, tapi asli Jombang :D Q anak sayangnya ayahku, ya sayangnya Ibuku juga sih ...:D Aku punya adik namanya Amel. umurnya baru 8 tahun, unyuk-unyuk loh teman anaknya ...:D

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS


Tema  :
Ø Ibu Aku Rindu.
Ø Liburan Di Rumah Eyang.
Ø Membantu kakek Menanam Jagung.

Ibu Aku Rindu
 Kerangka cerita :
1.     Aku seorang anak desa di pinggian kota.
2.     Semangat ku bekerja itu pondasi ketegaranku.
3.     Ayah dan ibu merasa bangga padaku.
4.     Ayah selalu bekerja siang malam demi membiayai sekolahku.
5.     Aku berangkat sekolah dengan sepeda butut peninggalan kakek.
6.     Sebelum berangkat aku tak lupa mencium tangan ibu.
7.     Aku mencium aroma tak sedap ditangan ibu.
8.     Bau sambal trasi yang ku cium ditangan ibu.
9.     Aku menutupi semua agar ibu tak tersinggung.
10.                        Aku berangkat sekolah pukul 06.30.
11.                        Terkadang aku terlambat masuk sekolah.
12.                        Di kelas banyak teman yang menyayangiku.
13.                        Karena kata mereka aku baik padanya.
14.                        Pada saat istirahat perasaanku tak enak.
15.                        Aku pulang dengan perasaan gembira.
16.                        Namun persaan itu berganti dengan kegelisahan.
17.                        Aku melihat bendera duka di depan rumahku.
18.                        Banyak orang menangis.
19.                        Aku bertanya dalam hati “ siapa meninggal? ’’
20.                        Aku khawatir langsung menaruh sepeda.
21.                        Aku berlari mencari ayah.
22.                        Ayah menangis memelukku.
23.                        Aku bertanya pada ayah.
24.                        Ternyata ibuku meninggal.
25.                        Aku tak percaya, ku buka kain putih.
26.                        Aku menangis mencium pipi ibu.
27.                        Dalam hati merasa banyak dosaku pada ibu.
28.                        Aku berusaha tegar, tapi tak bisa.
29.                        Aku lihat adik duduk di pangkuan paman.
30.                        Jenazah akan di bawa ke masjid untuk disalatkan.
31.                        Aku melihat wajah pucat pada ayah.
32.                        Pak ustad member ucapan bela sungkawa.
33.                        Jenazah akan di makamkan di TPU terdekat.
34.                        Ayah terjatuh pingsan di depan liang kubur.
35.                        Sepulang pemakaman, aku salat dan berdo’a.
36.                        Aku menemukan secarik surat di atas meja belajarku.
37.                         Surat itu dari ibu.
38.                        Aku hanya diam dan menangis kala membaca surat itu.
39.                        Malam tiba, tahlian pun segera dimulai.
40.                        Seusai tahlilan aku tertidur dan bermimpi bertemu ibu.
41.                        Bangun tidur aku menceritakan mimpi itu pada nenek.
42.                        Alhamdulillah aku lebih mengikhlaskan kepergian ibu.







Ibu Aku Rindu
Aku, seorang anak desa yang tinggal di pinggiran kota. Setiap hariku hanya belajar dan membantu orang tua. Aku anak pertama dari dua bersaudara. Ayahku bernama pak Tama, dan ibuku bernama Bu Astuti, adikku bernama Sari.
Bagiku semangat bekerja itu yang membuatku giat belajar untuk jadi orang yang sukses, serta membahagiakan orang tua. Dengan semangat itu pula menjadikan Ayah dan Ibuku bangga denganku.
Aku ingin membalas kebaikan orang tuaku. Karena mereka yang selalu membiayaiku, khususnya ayahku, dia yang mencari uang untuk membiayaiku sekolah. Kata ayah “ Jihad seorang siswa itu belajar dan bersekolah.”
Aku biasanya berangkat sekolah dengan sepeda butut peninggalan kakekku. Memang tidak semewah kepunyaan teman-temanku, secara hidupku tidak seberada mereka. Sebelum berangkat sekolah aku tak lupa mencium tangan ibu, namun aku mencium bau tak sedap ditangan ibu, bau sambal trasi yang menyengat. Demi menjaga perasaan ibu aku berusaha menyembunyikan itu semua, sebagai anak aku harus bisa menjaga perasaan ibu. Karna banyak sekali dosaku pada ibu.
“Bu, aku berangkat sekolah dulu ya…”
“Hati-hati nduk…”batuk-batuk
“Assalamualaikum”
“ waalaikum salam Wr.Wb” sambil menutup pintu rumah.
Di perjalanan menuju ke sekolah, aku harus melalui jalan yang rusak parah, dan hal itu tak jarang membuatku terlambat sekolah. Masih mending langsung masuk kelas, tapi ini dihukum terlebih dahulu. Keinginan marah dihati tak membuatku lupa akan perintah ibu “ Selalu bersabar menjalani kehidupan.”
Di kelas teman-teman baik padaku. Mereka tak membanding-bandingkan antara teman yang kurang mampu sampai yang berada. Dan salah satu teman yang  selama ini slalu ada disampingku adlah Rina. Dia anak yang baik, ia tak pernah kasar dan membenciku, walaupun aku anak orang yang kurang mampu.
Teman-temanku banyak yang bilang, aku anak yang baik. Itu yang membuat teman-teman saying padaku.” Alhamdulillah, masih ada orang yang sayang padaku, walaupun aku anak orang kere.”kataku dalam hati.
Dalam kelas kita slalu bergembira, tak ada kata duka. Namun tak tau kenapa hatiku merasa gelisah tak seperti biasa. Dan tak seperti biasanya fiiranku terus menuju pada ibu. Rina mendekatiku dan bertanya.
“ Ada apa Nin, apa yang terjadi padamutidak seperti biasanya kau seperti ini?
“(Memegang dada) aku tak tau Rin, tapi perasaanku sungguh tak enak sekali,
 apa yang sedang teradi pada ibuku.”
“ Tenanglah, ingat pada Allah. Yakinkan dirimu, tidak terjadi sesuatu pada ibumu.”
Aku memeluk sahabatku itu seakan yakin tak terjadi sesuatu pada ibuku. Tapi  memang akhir-akhir ini ibuku sakit, aku tak tau ibu sakit apa. Ia menyembunyikan penyakitnya padaku, seakan tak ingin aku memikirkannya.
Pulang sekolah, aku gembira sekali. Semoga tak terjadi apa-apa pada ibuku. Namun perasaan gelisah kembali muncul dibenakku.
Aku melihat bendera duka di depan rumahku, banyak orang keluar masuk rumahku seperti melayat. Banyak orang menangis, air mataku keluar dari kelopak mataku semakin deras.
“ Siapa meninggal ?” tanyaku dalam hati. Aku tak memperdulikan sepeda yang masih kunaiki. Aku berlari menuju rumah dengan tangisan yang tak pernah berhenti. Ku cari ayah, ku temui ayah menangis di depan keranda mayat.
Aku bertanya pada ayah “ Ayah siapa yang meninggal?”,
 ayah pun menjawab “ Ibu meninggal”
langsung ku buka kain putih, ibu terbujur diatas ranjang. Ku cium pipi ibu, ayah terus memelukku. Aku melihat wajah ketegaran ayah. Ia tak mau memperlihatkan kesedihannya di depanku.Ayah, walaupun diterpa masalah besar ia selalu sabar. Ia selalu mengajarkanku kesabaran.
“ Allah, member cobaan karena ia tau kau pasti bisa menyelesaikannya.
 Itu tanda Allah mencintaimu.” Kata ayah padaku di sela-sela aku menangisi jasat ibuku.
Teringat disaat aku melakukan banyak perbuatan yang membuat ibu marah. Ibu sering memukulku, membentak-benkakku, dan tak jarang juga menangis karena kelakuanku.
Aku baru sadar banyak sekali kesalahan yang ku perbuat pada pada ibu, sehigga membuatnya marah dan  sedih.
“ Ya Allah, tolong maafkan dosa Ibuku, ibu yang melahirkanku, merawatku, dan membesarkanku. Aku tau aku bukan anak yang sempurna seperti yang diharapkan ibu, banyak dosa yang telah ku perbuat. Terimalah ia di sisimu. Dan tegarkan aku ya Allah.”
Aku berusaha tegar, tapi mengapa rasanya masih tak mungkin semua ini terjadi.
Ah…apakah ini semua mimpi?” Ya Allah mengapa masih saja belum bisa menerima ini semua?”
            Jenazah ibu akan segera di salatkan, aku melihat adikku duduk dipangkuan paman yang sama sedihnya seperti ayah dan aku.
            Aku kasihan dengan adik, adik masih kecil, sudah tak mempunyai ibu. Aku dekati adik, ku peluk adik. Adik mengusap air mataku, ia pun merasakan kesedihan yang ku rasakan. Aku berkata pada Adik.
            “ Dik, jangan nangis ya…”
            ( ia pun Cuma mengangguk)
Lantunan surat yasintak pernah berhenti, do’a dari semua tetangga semoga menjadi tuntunan ibu menuju surga.
            Jenazah ibu mulai dibawa ke masjid untuk segera di salatkan, ku lihat wajah ayah yang pucat , ia ingin terjatuh namun di tahan.
            Sesampainya di masjid, pak Ustad yang menjadi imam di masjid memberikan ucapan bela sungkawa dan menyarankan agar keluarga tetap tegar.
            Setelah disalatkan jenazah akan di makamkan di TPU terdekat. Aku tak berhenti menangis, ayah pun sama. Ayah terjatuh pinsan di depan liang kubur ibu. Aku berteriak ” Ayah …..” aku berlari ke ayah yang sedag jatuh pinsan.
            Dengan pelukan nenek aku terus dan terus menangis sambil membaca ayat suci Al-Qur’an. Ketika orang yang akan menguburkan ibu turun ke bawah liang kubur. Aku mencegah penguburan itu.
            “ Ibuku belum meninggal, ini bukan ibuku. Ya kan nek …?”
            “ Tidak nak, ini ibumu. Sadar, istiqfar.”(terus memegangiku yang ingin lari ke liang ibu)
            Aku pun sadar, dan lebih mengikhlaskan kepergian ibu. Ayah mulai sadar dari pnsan.
            Pemakaman tlah usai, aku pulang kembali bersama keluaraga. Sampai di rumah aku mengambil air wudlu untuk membasuh mukaku dari air mata yang masih menggenang di pipi sekaligus salat ashar. Salat terasa sunyi tanpa ibu, biasanya aku selalu salat dengan ibu. Aku salat dengan menangis, menangis karna bahagia.
            Ibu meninggal dengan kiriman banyak do’a dari tetangga dan keluarga, aku yakin ibu pasti masuk sura yang dimuliakan Allah.
            Seusai salat aku masuk ke kamar untuk istirahat, aku melihat secarik surat yang ada di atas meja belajarku. Aku mengambil surat itu dan membacanya sambil duduk
di atas ranjang.
            Ternyata surat itu dari ibu, ibu sempat menulis surat sebelum meninggal. Surat itu berisi. “ Assalamualaikum Wr.Wb., untuk anakku Nina
Nin, sudah lama ibu ingin mengatakan ini padamu nduk, namun ibu takut
kamu khawatir terhadap penyakit ibu yang semakin hari semakin parah.
Sebenarnya ibu mengidap penyakit Leokimia, mungkin ibu tidak lama lagi
akan bertahan hidup. Ibu hanya berpesan jaga adikmu, jangan nakal ya …!
Juga belajar yang rajin ibu tau kamu pasti bisa meraih cita-cita kamu.
Nduk meskipun ibu tidak menemani kalian lagi, ibu akan melihat kalian di surga. Wassalamualaikum Wr.Wb.”
                                                                 Salam manis untuk anakku Nina

                                                                                         Ibu
            Aku hanya terdiam dan membisu kala membaca surat itu, air mataku kembali membasahi pipi, namun hatiku berusaha untuk tetap tegar. Aku mengusap air mata yang mengalir dari kedua bola mataku.
            Setelah membaca surat dari ibu aku ingin menunjukkan surat itu pada ayah, namun tidak. Aku tak ingin surat ini dibaca ayahdan membuat ayah terpukul lagi.
            Malam tlah tiba, tahlilan bersama satu  hari pasca meninggalya ibu akan segera dimulai. Tetanggaku mulai berdatangan ke rumahku. Aku pun bersiap-siap untuk  mengikuti tahlilan.
            Pada malam hari ini teman-temanku pun ikut tahlilan serta mengucapkan bela sungkawa padaku, aku hanya bisa mengucap termakasih untuk mereka.
            Seusai tahlilan pukul 23.00 malam, aku mulai bersip-siap untuk tidur. Sebelum tidur aku tak lupa membaca do’a dahulu. Aku ingin bertemu ibu dalam mimpi, aku rindu sekali dengan ibu.
            Entah ini mimpi atau bukan, ditengah lelapnya aku tidur ku lihat cahaya putih nan terang. Aku melihat sosok ibu berdiri anggun di tengah kepulan asap dan cahaya putih. Ibu tersenyum padaku, aku mendekati ibu, ibu memelukku. Dekapannya sangat lembut mengelus rambutku. Aku tercengang melihat ini, ibu berkata padaku.
“ Ibu bahagia nak di surga, di sana ibu sangat nyaman,
 kamu tak usah khawatir. Ibu sayang kalian semua.
Meski sekarang ibu tak ada di dunia, tapi ibu akan melihat kalian di surga.”
Aku hanya terdiam, mataku tak berkedip sama sekali, yan aku fikirkan hanya ada dimana sekarang aku, aku lebih tak mengerti mengapa ada di tempat seperti itu. Namun aku sungguh bahagia, aku bisa bertemu dengan ibu meski hanya dalam mimpi.
            Tapi setidaknya aku sudah tau kalau ibu berada dalam surge yang dimuliakan Gusti Allah.
            Saat aku terbangun dari tidurku, matahari mulai menampakkan sinarnya. Nenek mengetuk pintu kamarku, dan aku pun langsung mengatakan mimpi tadi malam pada nenek.
            “ Ada apa nduk, kelihatannya kau bahagia sekali”Tanya nenek sambil tersenyum
            “ Nek, tadi malam aku bertemu sama ibu, di suatu tempat yang sangat aneh.”
            “ Oh ya, ibumu bilang apa nduk?”
            “ Ibu bilang, ibu sekarang nyaman berada di surge, dia selalu dan akan melihatku
               dari surga.”
            “ Alhamdulillah ya Allah…” kata nenek sambil merangkulku
            Dan Alhamdulillah setelah satu minggu kepergian ibu, aku sudah bisa mengikhlaskannya, meskipun tak jarang aku merasa rindu pada ibu. Ibu, kau adalah ibu terbaik buatku.

Nama         : Ainia Gita Tiara Shanti
Kelas                   : IX A
No. absen  : 01(Satu)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar